Saya orangnya sangat plin plan. Sedikit sedikit memasuk akalkan perkataan orang lain. Tidak bisa menjadi diri sendiri. Pun memakai otak sendiri. Yang terjadi, berkali-kali saya tersandung. Ouch. Sangat menyebalkan.
Memberi, bukan menerima. Bukankah mudah? Berapa kali hari ini anda memberi sesuatu kepada orang lain? Memberikan tempat duduk pada seorang ibu di kereta, memberi permen pada anak kecil, memberi senyuman kepada satpam, memberi ini, memberi itu, memberi… simpel kan? Tanpa kita sadari, kita bisa melakukannya walaupun kita sadar bahwa semua itu merupakan hal sepele. Tapi memberi cinta?
Saya.. plin plan. Dua kali tersandung di hal yang sama. Menyakitkan? Tidak seberapa. Malu? Sangat! Membuktikan betapa plin plan nya saya. Pembuktian kepada ego saya yang sangat besar. Pembuktian bahwa saya masih anak kecil.
Saya.. ingin memberi. Bukan memaksa, menuntut, atau menerima. Salahkah?
gak salah kok….. mungkin yang sulit itu memberi tak harap kembali.
*jawaban ngawur*
By: itikkecil on April 22, 2008
at 1:57 am
coba memberi dan terus memberi dan terus lagi memberi. sampai kapan itu bisa bertahan? suatu kali ada waktunya kita mulai berpikir “kok memberi terus? kapan menerimanya?”
bagaimanapun, kita ini manusia…
By: eve on April 22, 2008
at 9:10 am
maaf ikut ngejunks .. semoga bermanfa’at ..
saya tanya boleh yah ..?? pertama memberi cinta itu kepada siapa dulu ..??
*), atau kepada orang lain (umum)
pada orangtua ..?? pada pasangan (suami/istri) ..?? (*kalo pacar nggak njamin deh
kalo kepada orang tua Insya ALLAH kita memberi saja dengan ikhlash karena ALLAH, dan jangan mengharapkan yang lain .. misal mendapatkan bantuan dari orangtua kelak dll, karena mereka sudah berjasa kepaa kita sejak kita baby sampai skr,
kalo kepada pasangan (suami/istri) hal ini harus dikembalikan lagi kapada aturan agama .. (ISLAM) karena di dalam agama ISLAM sudah jelas, meski suami adalah seorang pemimpin tetapi mereka harus mempergauli istri dengan baik, bersikap lemah lembut, begitu pula istri .. selalu ridho kepada suami, jika ada permasalahan diantara mereka, kembalikan kepada ajaran agama dan saling introspeksi ..
kalo kepada pacar .. ? wah saya nggak njamin dibales ikhlash apa nggak .. lawong pacaran .. meski ada niatan serius .. tetapi takdir hanya kuasa ALLAH , mending cinta diberikan kepada yang berhak ..
kalo kepada orang lain (umum) bisa macem² untuk orang yang tua, untuk anak2x .. dll .. wah definisinya bisa banyak nih .. entik aja yah dibahas lagi ..
By: tintin on April 22, 2008
at 12:16 pm
Hmmm, komen eve gue aminin deh… pada satu titik memang kita akan merasa, enough is enough… sudah saatnya kita menerima… tidak hanya memberi…
(halahhh, curhat colongan ini namanya, hehehe)
By: Silly on April 23, 2008
at 1:20 am
memberi dengn iklas itu benar..
tapi bukan memberi dengan membabi buta
tangan yang diatas lebih baik, itu juga benar
tapi jika membuat tangan yang lain selalu dibawah, dan membuat terus menerus tengadah meminta, sepertinya itu tidak bisa dikatakan benar.
By: OktaEndy on April 23, 2008
at 10:22 am
itikkecil : sigh… sulit.. sulit.. *melangkah pergi*
eve : selama ini saya selalu menuntut eve. apa salah jika sekarang saya ingin memberi? kedengarannya kok bullshit ya. we’ll see aja deh.
titin : cinta diberikan pada yang berhak? siapakah? kapan saya tahu bahwa dia berhak mendapatkan cinta saya?
silly : aih.. silahkan.. mo curhat colongan di comment box juga ndak apa2 kok. monggo… saya seneng2 aja..
By: Julie on April 24, 2008
at 3:31 am
oktaendy : sewajarnya saja. thanks ya jeng..
By: Julie on April 24, 2008
at 3:32 am
mangkanya mbak, memberi jangan cuman ke satu orang saja. coba mulai hari ini berilah lima orang atau lebih, makin banyak orang yang kita beri makin banyak lagi yang kita terima.
jangan lupa jaga stamina…
By: bubba on April 24, 2008
at 12:17 pm
gw pikir cuma gw orang yang paling plin plan didunia ini, ga bisa memilih..ternyata ada yang senasib..
*ngajak toss*
By: stey on May 8, 2008
at 12:40 am