Posted by: Julie | April 3, 2008

Dan ketika harus mengakhiri padahal dimulai pun belum..

Someone said, seeing is believing… padahal seeing is illusion. Feeling is believing. Tell ou something… what the best believing in you, when you OPEN or CLOSE your eyes ? When you use YOUR EYES… or when you feel with your HEART? Which one is too real to believe ? When you touch something… What the MOST makes you understand that those thing is REAL ? Because your eyes see the shape of it ? Or because your feeling because you touch those thing? Who move your body around ? Your real thing ? Or your un-real thing ? Which only you can feel… but not seen. When you cry… what the real thing is ? You SEE or you FEEL ? When you happy… what the real one? FEEL it ? Or SEE it ?

Saya, percaya pada apa kata hati. Dulu, saya bertindak menuruti kata hati. Kalau hati ini berkata saya harus melakukan A, saya akan melakukan A. Segalanya terasa mudah jika kita mempercayai perasaan sendiri. Memang, tidak semua perasaan yang saya punyai ini benar. Tapi, walaupun ternyata salah, setidaknya saya mengerti dimana letak salahnya, dan merasa puas telah melakukannya (walaupun salah!).

Sekarang, boro-boro. Melakukan apa pun yang saya sukai, melakukan apa yang hati katakan, sekuat apa pun perasaan saya, saya tidak bisa melakukannya begitu saja. Selalu ada hal yang membuat saya tidak leluasa mengambil tindakan sesuai dengan feeling. Mentok sana sini. Pacar bilang, saya terlalu egois. Tidak melibatkannya dalam hal ini. Loh? Harus ya?

Mungkin memang saya terkesan egois. Tapi itulah saya. Selalu mengikuti kata hati. Selalu mempercayai perasaan saya. Dan akhir-akhir ini saya berusahan me-rem semua itu. Dan ketika saya melihat cermin, saya bukan lagi saya yang dulu, yang selalu mempunyai watak yang tegas dalam segala hal, percaya diri walaupun saya yang pemalu itu masih ada,  bisa mengambil keputusan apapun menuruti kata hati. Sekarang saya tidak mengenal diri saya. Saya jadi ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Apa-apa jadinya harus bertanya pada pacar, apakah saya bisa mengambil A atau tidak. Dan ketika saat ini saya mempercayai perasaan saya, lagi-lagi saya harus dihadapi kenyataan yang pahit. Mengakhiri segalanya sebelum saya memulainya. Kenapa? Lagi-lagi mentok sana sini.

Oke, Juls! Mari jujur pada diri sendiri. Saya, Julie, saat ini ingin memutuskan hubungan dengan pria yang telah menemaninya kurang lebih 6 tahun lamanya. Kenapa? Karena saya nggak yakin dengan hubungan ini. Saya nggak yakin perasaan saya cukup untuk menerima ajakannya untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Saya, nggak yakin dengan perasaan saya.

Tapi apa yang terjadi? Sudah lama berpikir tentang hal ini, apalagi orang tua sudah mempertanyakan bagaimana hubungan kami, apakah hanya hubungan abg atau memang sudah punya tujuan. Jangan sampai, jika memang masih belum punya tujuan pasti, hubungan ini malah menutup kemungkinan bertemu dengan orang yang tepat. Saya mengerti itu.  Makanya saya berpikir terus menerus, apakah perasaan saya cukup untuk menerimanya sepanjang hidup saya nanti?

Dan pembuktian itu perlu untuk mempercayai perasaan saya benar atau tidak. Makin kesini, saya melihat hubungan ini malah berjalan mundur. Selalu banyak pertengkaran. Mungkin perkara sepele. Teman-teman terbiasa melihat saya dan pacar bertengkar untuk hal sepele. Itu dulu, ketika semua itu tidak menjadi soal. Sekarang, yang saya lihat, hal-hal yang dipertengkarkan malah membuat perasaan saya semakin jauh. Makin kesini, saya semakin egois. Makin kesini saya semakin tidak bisa menerima sifat buruknya. Bukankah dalam pernikahan nanti saya harus menerima baik buruknya pacar?

Maka saya pun mulai berpikir, “bagaimana kalau saya putus saja?”.  Daripada saya terus menerus menyakitinya. Dan saya percaya, pacar lebih berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik daripada saya. Saya yang selalu tidak ambil pusing ketika selingkuh. Saya yang selalu egois dimatanya. Saya yang selalu marah-marah kepadanya, tidak mempedulikan perasaannya sedikitpun. Saya tahu pacar capek ngadepin saya. Dan saya tahu, saya juga capek menjalani semua ini.

Bertemulah saya dengan dia di suatu waktu. Dia, yang selalu menemani saya hampir 24 jam kecuali kami tidur. Dia, yang selalu mengajari saya mana yang baik dan buruk. Dia, yang dapat membuat saya merasa malu dengan kelakuan saya selama ini padahal biasanya saya tidak pernah peduli dengan baik buruknya tingkah laku saya, sepanjang saya merasa senang. Dia, yang dapat membuat saya merasa nyaman. Dengannya, saya mulai mempercayai perasaan saya lagi.

Dan ketika saya harus mengakhiri hubungan ini dengan dia, saya merasa ada yang hilang. Kenapa Juls, mesti diakhiri? Jalani saja perasaan yang sedang berbunga-bunga ini, ujar seorang teman. Karena, dia memutuskan untuk mengubur semua kesempatan yang ada. Dia bilang, “kalau kamu meneruskan semua ini, siapa yang sebenarnya yang paling sakit?”. Dan ketika keras kepala saya tidak bisa dibantah lagi, dia menyerah. “As long as you happy” membuat saya tersadar, saya harus mengakhirinya. Karena saya tidak ingin hanya saya saja yang merasa bahagia sementara dia tidak.  Sedih tentu ada. Bahkan saya menangis ketika semua telah selesai dibicarakan. Lebih memilih mengobrol dengannya sampai pukul tiga lsubuh sementara saya harus bangun jam 6.

Dan, apa yang harus saya pegang sekarang? Perasaan atau mata? Mana yang mesti saya pilih, mengejar impian dan berusaha meraihnya, atau menikmati apa yang sudah ada?

Saya tidak mengerti.


Responses

  1. just do it lah hoho

  2. hmmm, mungkin ini gak akan bantu banyak… tapi menurut saya, We have MIND, HEART and SOUL… Ada hal yang hanya butuh our mind, pikiran/otak, untuk memecahkan masalah… ada yang butuh melibatkan hati kita… tapi ada hal yang justru harus melibatkan “SOUL” kita… jiwa kita, yang biasanya di”huni” oleh perasaan dan roh kita…

    Untuk urusan pasangan hidup… TRUST YOUR SOUL… karena dia yg akan menentukan apakah lelaki ini memang SOULMATES-nya atau bukan. Don’t ever follow your mind or just heart… karena kadang satu hubungan yg dimulai atas dasar logika saja… gak akan bertahan lama… demikian pula dengan hubungan yg hanya melibatkan perasaan saja…

    SOUL, melibatkan seluruh elemen dlm tubuh untuk menentukan soulmatesnya… Ya Mind… Ya Heart juga… semua…

    So, I hope you will find your soulmates soon… kalau mo memutuskan sesuatu, ASK your SOUL (take a deep breath and think a hundreds times before decided). And jangan lupa untuk melibatkan DIA, SANG EMPUNYA KEHIDUPAN INI, dalam setiap langkah yg akan kamu ambil yach.

    Takecare,
    silly-


Leave a response

Your response:

Categories